Rabu, 23 November 2011

Pemimpin, Harus Mempertajam Kepekaan Jiwa


Salah satu sikap hidup muslim yang harus kita miliki adalah kepekaan jiwa yang dalam. Orang yang memiliki kepekaan jiwa yang dalam akan membuat dia selalu mampu menangkap isyarat-isyarat positif dari berbagai peristiwa yang terjadi baik pada masa lalu maupun masa kini.

Salah satu persoalan besar yang terjadi pada masyarakat dan bangsa kita sekarang ini adalah rendahnya atau bahkan hilangnya kepekaan jiwa. Orang yang tidak memiliki kepekaan jiwa akan berakibat pada diri dan masyarakatnya. Akibatnya, orang tidak mampu menangkap isyarat-isyarat positif dari ucapan dan tindakan orang lain serta peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Dalam sejarah, kita dapati begitu banyak orang yang kepekaan jiwanya amat tajam, sehingga isyarat-isyarat positif begitu cepat ditangkap dan diwujudkan dalam kehidupannya.
Contoh : Siti Hajar ketika ditempatkan di mekkah dan Nabi Nuh yang diperintahkan untuk membuat perahu.

 “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mu’min) dari orang-orang yang bersamamu”. (QS. Hud : 48)

Ada dua syarat agar kita memiliki kepekaan jiwa yang tajam, yaitu :
Pertama. Memiliki perasaan rendah hati (atawdhu’)
Kedua. Suka terhadap kritik dan saran dari siapapun datangnya.

Memiliki kepekaan jiwa merupakan sesuatu yang amat penting dan itu menjadi lebih penting lagi bagi para pemimpin agar dalam kepemimpinannya bisa dihindari keluarnya kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan ajaran Islam. 

3 komentar:

Anonim mengatakan...

memang, kebanyakan kita memiliki kepekaan yang sangat tumpul. contohnya ketika melihat kecelakaan di jalan, kita cenderung cuek. paling dalam hati kita mengatakan: "ah kan ada orang yang nolongin". mending ada yang nolongin, ga ada aja kite cuek..

Anonim mengatakan...

emaaang. kt perlu muhasabah..

Anonim mengatakan...

MMMM...kepekaan jiwa memang harus selalu diasah (pedang kaleee..he he). Tapi bener sih. Kejadian di china yang membiarkan bocah kelindas mobil dua kali menunjukkan sangat kurangnya kepekaan jiwa kita. jangan-jangan kita termasuk yang kepekaannya tumpul yaa. Naudzubillah...