Rabu, 21 Maret 2012

Konsep Modal Kerja Perusahaan


Modal kerja dibedakan menjadi dua macam, yakni modal kerja kotor (gross working capital) dan modal kerja bersih (net working capital).
Terdapat tiga konsep definisi modal kerja yaitu :
  • Konsep kuantitatif:
Konsep ini menunjukan jumlah dana ( fund) yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancer ( gross working capital ).
  • Konsep kualitatif:
Menitik beratkan pada kualitas modal kerja menurut konsep ini modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhdap hutang lancar ( net working capital ). Sehingga menunjukan margin of protection ( tingkat keamanan bagi para kreditur jangka pendek )
  • Konsep fungsional:
Menitik beratkan fungsi dari dana yang dimiliki dalam menghasilkan laba dari usaha pokok perusahaan yaitu current income dan future income.

Tujuan dan Sumber Modal
Tujuan laporan perubahan modal kerja adalah memberikan ringkasan transaksi keuangan yang terjadi selama satu periode dengan menunjukan sumber dan penggunaan modal kerja dalam periode tersebut. Laporan perubahan modal kerja akan memberikan gambaran tentang bagaimana management mengelolah perputaran atau sirkulasi modalnya. Dimana sumber- sumber modal kerja berasal…
  1. Hasil operasi perusahaan.
  2. Keuntungan dari pernjualan surat-surat berharga ( investasi jangka pendek )
  3. Penjualan aktiva tidak lancar
  4. Penjualan saham atau obligasi
Sebab Perubahan Modal Kerja
Ø  Adanya kenaikan sector modal baik yang berasal dari laba maupun adanya pengeluaran modal saham atau tambahan investasi dari pemilik perusahaan maka modal kerja akan bertambah
Ø  Ada pengurangan atau penurunan aktiva tetap yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar karena adanya penjualan aktiva tetap maupun melalui proses depresiasi,modal kerja kan bertambah
Ø   Ada penambahan hutang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotek, atau hutang jangka panjang lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar, maka modal kerja akan bertambah
Ø  Karena kerugian yang diderita oleh perusahaan, baik kerugian normal maupun kerugian exidentil.maka akan mengurangi modal kerja.
Ø  Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam jangka panjang.maka akan mengurangi modal kerja
Ø   Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap maka akan mengurangi modal kerja
Ø  Pengambilan uang atau barang yang dilakukan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadi.
(Dewi Andriani/11530106/Akuntansi)

Budget Kas (Anggaran Kas)



Pengertian budget kas
Budget kas adalah skedul tentang estimasi terhadap posisi kas, baik berupa penerimaan kas maupun pengeluaran kas untuk suatu pereiode tertentu pada masa yang akan datang.
 Budget Kas adalah budget yang merencanakan secara lebih terperinci tentang jumlah kas beserta perubahan-perubahannya dari waktu kewaktu selama periode yang akan datang, baik perubahan yang berupa pengeluaran kas, maupun yang berupa penerimaan kas.

Budget kas dibedakan dalam dua bagian, yaitu:
  1.  Estimasi penerimaan-penerimaan kas yang berasal dari : hasil penjualan tunai; piutang yang berkumpul; penerimaan bunga devident; hasil penjualan aktiva tetap, dan penerimaan-penerimaan lain.
  2. Estimasi pengeluaran kas yang digunakan untuk : pembelian bahan mentah; pembayaran utang-utang ; pembayaran upah buruh; pengeluaran untuk biaya penjualan, premi asuransi; pembelian aktiva tetap dan pengeluaran-pengeluaran lain.

Manfaat penyusunan budget kas yaitu:
1.      Dapat diketahui posisi kas sebagai hasil rencana operasi perusahaan.
  1. Mengetahui surplus atau defisit kas.
  2. Dipergunakan sebagai dasar untuk mengantisipasi kebutuhan kas karena defisit kas
  3. Sebagai dasar untuk mencapai target dan mengukut keberhasilan perusahaan.
  4. Alat untuk mengkoordinasikan kegiatan perusahaan.

Tujuan penyusunan anggaran kas bagi pimpinan perusahaan adalah untuk mengetahui :
  1. Kemungkinan posisi kas sebagai hasil rencana operasinyaperusahaan
  2. Besarnya dana beserta saat/kapan dana tersebut dibutuhkan untuk menutup defisit kas
  3. Saat kapan kredit dibayar kembali.

 Tahap penyusunan budget kas:

  1. Penyususun estimasi penerimaan dan pengeluaranmenurut rencana operasionil perusahaan (transaksinyaadalah transaksi operasional).
  2. Menyusun perkiraan atau estimasi kebutuhan dana ataukredit dari bank atau sumber-sumber dana lainnya yangdiperlukan untuk menutup defisit kas karena rencana operasinya perusahaan. Juga disusun estimasipembayaran bunga kredit tersebut beserta waktu pembayarannya kembali (transaksinya adalah transaksifinansiil)
  3. Menyusun kembali estimasi keseluruhan penerimaan danpengeluaran setelah adanya transaksi finansil dan budgetkas yang final ini merupakan gabungan dari transaksioperasional dan transaksi finansial yang menggambarkanestimasi penerimaan dan pengeluaran kas keseluruhan

Pendekatan Penyusunan Budget Kas
Ada dua pendekatan yang dapat di gunakan dalam menyusun budget kas, yaitu:
  1. Pendekatan penerimaan dan pengeluaran kas
    Sumber-sumber penerimaan kas muncul dari transaksi-transaksi seperti penjualan tunai, pengumpulan piutang dagang dan piutang wesel. Bunga yang diterima dari investasi, penjualan aktiva tetap, dan penghasilan lain-lain. Pengeluaran kas muncul dari berbagai pembayaran tunai, misalnya pembelian bahan baku, upah tenaga kerja langsung, biaya-biaya tunai (penyusutan tidak termasuk), pembelian aktiva tetap untuk periode yang bersangkutan, pajak, dan pembayaran deviden.

  2. Pendekatan akuntansi keuangan
      Pendekatan akuntansi keuangan banyak digunakan oleh perusahaan terutama untuk penyusunan budget kas jangka panjang. Pendekatan ini tidak memerlukan data terlalu rinci. Pada pendekatan ini, penyusunan aliran kas mulai dari laporan rugi laba; kemudian laporan tersebut disesuaikan dengan cara mengubah dari accrual basis menjadi cash basis.

Tiga motif untuk memiliki uang kas adalah:

    1. Transaksi motif
    2. Motif berjaga-jaga
    3. Motif spekulasi
Siswo Aris Munandar / 10530042 /Akuntans

Tujuan investasi dalam efek

Efek atau dalam istilah bahasa inggris security adalah merupakan suatu surat berharga yang bernilai serta dapat di perdagangkan.
Suatu perusahaan dapat menggunakan dananya untuk membeli investasi dalam bentuk efek dengan tujuan memperoleh bunga ataupun keuntungan dari nilai jual, selain itu pembelian investasi dalam bentuk efek untuk menjaga likuiditas atau tujuan mendapatkan pendapatan dari dana yang di tanamkan dalam efek tersebut.
Efek dapat di kategorikan sebagai hutang dan ekuitas seperti obligasi dan saham. Efek dapat berupa sertifikat atau dapat berupa pencatatan elektronis yang bersipat:

1. Sertifikat atas unjuk, artinya pemilik yang berhak atas efek tersebut adalah sipembawa atau pemegang efek.

2. Sertifikat atas nama, artinya pemilik efek pemilik yang berhak atas efek tersebut adalah yang namanya tercatat pada daftar yang di pegang oleh penerbit atau biro pencatat efek.

 Adapun peraturan perdagangan efek di negara kita berbeda dengan di negara-negara lain. Seperti di amerika, penjualan efek kepada publik harus di daftarkan terlebih dahulu kepada komisi pengawas pasar modal amerika, aturan tambahan dari perdagangan efek juga di lakukan oleh badan indefendent seperti NASD, atau Munisipal Securities Rulemaking Board (MRSB)

Sedangkan di indonesia, yang dapat melakukan penawaran umum hanyalah emiten yang telah menyampaikan pernyataan pendaftaran kepada Badan Pengawas Pasar Modal untuk menawarkan atau menjual efek kepada masyarakat dan pernyataan pendaftaran tersebut telah efektif. Selain itu, tidak satu pihakpun dapat menjual efek dalam penawaran umum, kecuali pembeli atau pemesan menyatakan dalam formulir pemesanan efek bahwa pembeli atau pemesan telah menerima kesempatan untuk melakukan transaksi pembelian efek tersebut. (irwan sutisna,11530136,akuntansi,STIE SWADAYA cikarang)



KONSEP MODAL KERJA PERUSAHAAN


Modal kerja meliputi seluruh aktiva lancar atau aktiva lancar dikurangi hutang.tujuan manajemen modal kerja mengelola aktiva lancar dan hutang lancar agar terjamin jumlah net working capital yang layak diterima (acceptable) yang menjamin tingkat likuiditas suatu badan Usaha.dimana sumber – sumber modal kerja berasal:
1.Hasil operasi perusahaan
2.keuntungan pendek
3.penjualan aktva tidak lancer
4.penjualan sahan dan obligasi
Contoh manajemen modal kerja adalah manajemen kas, manajemen piutang manajemen persediaan.Terdapat tiga konsep definisi modal kerja yaitu :
  • Konsep kuantitatif
Konsep ini adalah menggambarkan keseluruhan jumlah aktiva lancar,dimana aktiva lancar ini sekali berputar dan dapat kembali ke bentuk semula dalam jangka waktu pendek.konsep ini disebut modal kerja Bruto Gros working capital.  menunjukan jumlah dana ( fund) yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancar (gross working capital ).
  • Konsep kualitatif:
Menitik beratkan pada kualitas modal kerja menurut konsep ini modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhdap hutang lancar ( net working capital ). Sehingga menunjukan margin of protection ( tingkat keamanan bagi para kreditur jangka pendek )
  • Konsep fungsional:
Menitik beratkan fungsi dari dana yang dimiliki dalam menghasilkan laba dari usaha pokok perusahaan yaitu current income dan future income.
{UJANG ANDRI AHMAD KUSARI/10530129/AKUNTANSI}

Tujuan Investasi dalam Efek

Pada dasarnya ada 2 keuntungan yang diperoleh pemodal dengan membei atau memiliki saham, yaitu

a. Deviden

Deviden yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan, deviden diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Deviden yang dibagikan perusahaan dapat berupa deviden tunai artinya kepada setiap pemegang saham diberikan deviden berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham atau dapat pula berupa deviden stock yang artinya setiap pemegang saham diberikan deviden sejumlah saham sehingga sejumlah saham yang dimiliki investor bertambah dengan adanya pembagian dieviden stock tersebut.  

b.Capital Gain

Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual, dimana harga jual lebih tinggi dari harga beli, capital gain terbentuk dengan adanya aktifitas perdagangan di pasar sekunder. Misalnya seorang pemodal membeli saham BUMI dengan harga per lembar Rp.5000 kemudian menjualnya dengan harga Rp.5500 per lembarnya, yang berarti pemodal tersebut telah mendapatkan capital gain sebesar Rp.500 untuk setiap saham yang dijualnya. Umumnya pemodal dengan orientasi jangka pendek untuk mengejar keuntungan melalui capital gain.

Disamping 2 keuntungan tersebut, maka pemegang saham juga dimungkinkan untuk mendapatkan:
      •  Saham Bonus
Saham bonus (jika ada) yaitu saham yang dibagikan perusahaan kepada pemegang saham yang diambil dari agio saham, agio saham adalah selisih antara harga jual terhadap harga nominal saham tersebut pada saat perusahaan melakukan penawaran umum dipasar perdana, misalnya setiap saham dengan nilai nominal Rp.500 dijual dengan harga Rp.800 maka setiap saham akan memberikan agio kepada perusahaan sebesar Rp.300 setiap sahamnya.
(Titi Andriyani/10530137/Akuntansi)

Peranan Manajer Keuangan


Manajer keuangan adalah manajer perusahaan yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan penting mengenai investasi dan pendanaan.dalam hal investasi,manajer keuangan terlibat langsung dalam perencanaan dan pengendalian penggunaan dana.Manajer keuangan juga bertanggung jawab dalam memperoleh kelancaran aliran kas yang masuk ke dalam perusahaaan untuk membiayai investasi dan operasi perusahaan  sangat tergantung  dengan sejauh mana kemampuan manajer keuangan dalam menjalankan fungsi pendanaan.demikian juga manajer keuangan sangat berperan dalam pembayaran dividen kepada pemilik perusahaan dan pembayaran kembali hutang kepada para kreditur.
Sesuai dengan tujuan perusahaan bahwa peran manajer keuangan juga adalah memaksimumkan nilai perusahaan.memaksimumkan nilai perusahaaan bermakna lebih luas dibandingkan dengan  memaksimumkan laba,hal ini dikarenakan:
1.memaksimumkan nilai berarti juga mempertimbangkan pengaruh waktu terhadap nilai uang.
2.memaksimumkan nilai berarti juga mempertimbangkan berbagai resiko terhadap arus pendapatan perusahaan.
Mutu dari arus dana yang diharapkan diterima di masa yang akan datang memungkinkan keragaman.
Ada empat aspek peranan penting juga yang harus dilakukan manajer keuangan,yaitu:
1)      Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer lainnya yang bertanggung jawab atas perencanaan umum perusahaan
2)       Manajer kuangan harus memusatkan perhatian pada berbagai keputusan investasi dan pembiayaan, dan berbagai hal yang berkaitan dengannya
3)       Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer di perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin
4)       Manajer keuangan harus mampu menghubungkan perusahaan dengan pasar keuangan, dimana perusahaan dapat memperoleh dana dan surat berharga perusahaan dapat diperdagangkan.
Apek penting lain dari peranan manajer keuangan adalah pertimbangan terhadap tanggung jawab social yang dapat dilihat dari empat segi,yaitu:
  1. Jika manajemen keuangan menuju pada memeksimalisasi harga saham, maka diperlukan       manajemen yang baik dan efisien sesuai dengan permintaan konsumen.

    2. Perusahaan yang berhasil selalu menempatkan efisiensi dan inovasi sebagai prioritas, sehingga menghasilkan produk baru, penemuan teknologi baru dan perluasan lapangan pekerjaan

    3. Faktor-faktor luar seperti pencemaran lingkungan, jaminan keamanan produk dan keselamatan kerja menjadi lebih penting untuk dipertimbangkan. Fluktuasi disemua tingkat kegiatan bisnis dan perubahan-perubahan yang terjadi pada kondisi pasar keuangan merupakan aspek penting dari lingkungan luar.

    4. Kerjasama antara industri dan pemerintah sangat diperlukan untuk menciptakan peraturan yang mengatur tentang perilaku perusahaan, dan sebaliknya perusahaan mematuhi peraturan tersebut. Tujuan perusahaan pada dasarnya adalah memeksimumkan nilai perusahaan dengan pertimbangan teknis.
    ( Aan anengsih/10530099/Akuntansi/STIE SWADAYA Cikarang ).

Selasa, 20 Maret 2012

Fungsi Manajer Keuangan dalam Perusahaan


Manajer keuangan mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap apa yang telah dilakukannya. Ada pun keputusan keuangan yang menjadi tanggung jawab manajer keuangan dikelompokkan ke dalam tiga jenis:
  1. Mengambil keputusan investasi (investment decision), Menyangkut masalah pemilihan investasi yang diinginkan dari sekolompok kesempatan yang ada, memilih satu atau lebih alternatif investasi yang dinilai paling menguntungkan.Dalam hal investasi manajer keuangan terlibat langsung dalam perencanaan dan pengendalian penggunaan dana.
  2. Mengambil keputusan pembelanjaan (financing decision), Menyangkut masalah pemilihan berbagai bentuk sumber dana yang tersedia untuk melakukan investasi, memilih satu atau lebih alternatif pembelanjaan yang menimbulkan biaya paling murah.
  3. Mengambil keputusan dividen (dividend decision) atau dividen policy, Menyangkut masalah penentuan besarnya persentase dari laba yang akan dibayarkan sebagai dividen tunai kepada para pemegang saham, stabilitas pembayaran dividen, pembagian saham dividen dan pembelian kembali saham-saham.
Keputusan-keputusan tersebut harus diambil dalam kerangka tujuan yang seharusnya dipergunakan oleh perusahaan yaitu memaksimumkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan adalah harga yang terbentuk seandainya perusahaan dijual. Apabila perusahaan “go public” maka nilai perusahaan ini akan dicerminkan oleh harga saham perusahaan tersebut. Dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka pemilik perusahaan menjadi lebih makmur sehingga mereka menjadi lebih senang. Aktivitas perusahaan ditinjau dari sudut manajemen keuangan menjadi tugas manajer keuangan. Tugasnya antara lain adalah sebagai berikut :
  1. Perolehan dana dengan biaya murah.
  2. Penggunaan dana efektif dan efisien
  3. Analisis laporan keuangan
  4. Analisis lingkungan Internal dan eksternal yang berhubungan dengan keputusan rutin dan khusus. (Dede Romansyah/10530142/Akuntansi/STIE SWADAYA CIKARANG)

Konsep Modal Kerja dalam Perusahaan

1.       Pengertian dan Konsep Modal Kerja
Setiap perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk membiayai kegiatan operasionalnya baik dalam perusahaan yang bergerak dalam bidang industri maupun jasa. Modal kerja harus selalu dalam keadaan berputar selama perusahaan melakukan kegiatan usaha.
Ada beberapa pengertian modal kerja yang dikemukakan oleh beberapa ahli diantaranya :
Menurut J. Fred Weston dan Eugene F. Brigham (1989 : 410) bahwa : “Modal kerja adalah investasi perusahaan pada aktiva jangka pendek, kas, sekuritas yang mudah dipasarkan, persediaan, dan putang usaha.”

Jadi modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam bentuk uang tunai, kas, surat berharga, piutang dan persediaan yang dapat digunakan untuk membiayai aktiva lancar.
Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri (1994 : 33) bahwa : “Modal kerja merupakan kekayaan atau aktiva yang diperlukan oleh perusahaan untuk menyelenggarakan kegiatan sehari-hari yang selalu berputar-putar selama hidup perusahaan.”

Jadi modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam harta jangka pendek yang digunakan untuk kepentingan sehari-hari dan selalu berputar selama hidup perusahaan.
Menurut Sarwoko dan Abdul Halim (1987 : 79) bahwa : “Modal kerja adalah aktiva-aktiva jangka pendek yang digunakan untuk kepentingan sehari-hari.”
Jadi modal kerja merupakan aktiva yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan operasi perusahaan sehari-hari.

Menurut James C. Van Horne (1986 : 373), mengemukakan bahwa : “Working Capital is Assets Namely, Cash and Marketable Securities, Receivable, Inventories and Current Liabilities”.
Artinya adalah “Modal kerja merupakan aktiva yaitu kas dan surat berharga, piutang, persediaan dan kewajiban lancar.

Jadi modal kerja merupakan aktiva yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan operasi perusahaan sehari-hari dan untuk memenuhi semua kewajiban finansialnya.
Ada beberapa konsep mengenai pengertian modal kerja menurut Bambang Riyanto (1997 : 57) :
1. Konsep Modal Kerja Kotor
Menurut konsep ini, yang dimaksud modal kerja adalah mencakup keseluruhan dari aktiva lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bruto (gross working capital)
2. Konsep Modal Kerja Bersih
Menurut konsep ini, adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasinya perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas hutang lancarnya. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja netto (netto working capital)
3. Konsep Fungsional,
Pengertian modal kerja menurut konsep ini adalah dana yang digunakan selama periode accounting yang dimaksudkan untuk menghasilkan current income (sebagian lawan dari future income) yang sesuai dengan maksud utama didirikannya perusahaan tersebut.

2.   Unsur-Unsur Modal Kerja
Berdasarkan pengertian modal kerja tersebut di atas, bahwa modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam harta jangka pendek yang dapat segera dijadikan uang kas. Modal kerja tersebut memiliki unsur-unsur sebagai berikut :

1. Kas (Cash)
Menurut S. Munawir (1995 : 158), kas merupakan salah satu modal kerja yang paling tinggi likuiditasnya, suatu perusahaan dengan kas dalam jumlah yang besar berarti tingkat perputaran kas tersebut rendah dan mencerminkan adanya over investment dalam kas berarti pula bahwa perusahaan kurang efektif dalam mengelola kas. Sedangkan jumlah kas yang relatif kecil akan diperoleh tingkat perputaran kas yang tinggi dan keuntungan yang diperoleh akan lebih besar, tetapi suatu perusahaan yang hanya mengejar keuntungan (rentabilitas) tanpa memperhatikan likuiditas akhirnya perusahaan itu akan dalam keadaan illikuid apabila sewaktu-waktu ada tagihan. Karena kas sangat berperan dalam menentukan kelancaran kegiatan perusahaan maka kas itu harus direncanakan dan diawasi dengan baik.
Jadi kas sangat diperlukan untuk membiayai operasi perusahaan sehari-hari maupun untuk mengadakan investasi baru dalam aktiva tetap.
J. Fred Weston dan Thomas E Copeland (1997 : 248) mengemukakan ada 4 motif yang menyebabkan perusahaan menahan kas yaitu :
- Motif transaksi
- Motif berjaga-jaga
- Kebutuhan masa depan
- Kebutuhan saldo kompensasi

a. Motif Transaksi
Motif ini adalah motif utama menahan kas agar perusahaan mampu menjalankan usahanya sehari-hari yaitu membeli dan menjual. Pada bidang usaha tertentu dimana saat pemasukan tagihan bisa diramalkan (seperti PLN, PAM), arus kas masuk bisa dijadwalkan dan diselaraskan dengan kebutuhan arus kas keluar. Biasanya rasio kas terhadap penghasilan dan kas terhadap total aktiva pada perusahaan-perusahaan semacam ini relatif rendah. Sebaliknya yang terjadi pada perusahaan dagang hasil penjualan tidak menentu dan sejumlah transaksi bisa langsung disertai dengan perpindahan kas secara fisik. Sejumlah besar transaksi bisa saja terjadi tanpa diperkirakan sebelumnya, sehingga berakibat besar pada arus kas. Hal ini menyebabkan perusahaan dagang memerlukan rasio kas terhadap penjualan dan rasio kas terhadap total aktiva yang lebih besar.

b. Motif berjaga-jaga
Motif berjaga-jaga (precautionary) untuk menahan kas terutama berkaitan dengan bisa tidaknya arus kas masuk dan keluar diperkirakan. Makin mudah estimasi arus kas, makin sedikit jumlah kas yang ditahan untuk menghadapi keadaan tak terduga. Faktor lain yang sangat berpengaruh pada motif berjaga-jaga adalah kemampuan meminjam tambahan kas secara mendadak. Fleksibilitas meminjam sangat tergantung pada kekuatan yang dimiliki perusahaan dalam berhubungan dengan instansi Perbankan atau sumber-sumber dana lainnya. Kebutuhan menahan kas bisa terpenuhi sebagian besar dengan memiliki aktiva yang dapat segera dicairkan atau ditunaikan, seperti surat berharga jangka pendek, promes (promissory notes) dan sebagainya.

c. Kebutuhan masa depan
Saldo kas dan surat berharga perusahaan suatu saat bisa melonjak tinggi karena dana dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dimasa yang akan datang. Kas dan surat berharga juga mencerminkan himpunan dana dari mana perusahaan dapat cepat melakukan penarikan untuk mengisi peluang jangka pendek, termasuk akuisisi. Ini adakalanya disebut sebagai motif spekulatif untuk menyimpan kas.
d. Kebutuhan saldo kompensasi
Sistem Perbankan memberikan banyak sekali jenis pelayanan pada dunia usaha. Perusahaan membayar jasa pelayanan ini sebagian dengan cara membayar langsung, dan terkadang sebagian lagi dengan mempertahankan sejumlah dana minimum di bank yang disebut saldo kompensasi. Saldo kompensasi ini berupa sejumlah saldo minimum yang diputuskan untuk tetap berada di bank dalam rekening gironya. Dan untuk itu perusahaan tidak perlu membayar jasa pelayanan tertentu pada bank. Dengan adanya saldo ini bank dapat meminjamkan dana-dana tersebut pada pihak lain dengan janga waktu yang lebih lama. Bank akan memperoleh penghasilan bunga, yang merupakan biaya jasa tidak langsung yang harus dibayar oleh perusahaan pertama.

2. Surat-surat Berharga (Marketable Securities)
Menurut S. Munawir (1995 : 122)
“Surat berharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka pendek (Marketable Securities atau Efek) adalah salah satu elemen aktiva lancar yang segera dapat dijual dan dapat menimbulkan keuntungan bagi perusahaan. Dengan adanya penjualan surat berharga ini menyebabkan terjadinya perubahan dalam unsur modal kerja yaitu dari bentuk surat berharga berubah menjadi uang kas.”
Jadi surat berharga merupakan kekayaan, aktiva lancar yang dimiliki perusahaan yang dapat menghasilkan keuntungan.
J. Fred. Weston dan Thomas E Copeland (1997 : 262) mengemukakan ada 6 kriteria yang diterapkan untuk memilih surat-surat berharga tersebut yaitu :
1. Risiko Keuangan
2. Risiko Suku Bunga
3. Risiko Daya Beli
4. Risiko Likuiditas (Kemudahan pencairan atau kemudahan untuk dijual kembali)
5. Beban Pajak
6. Hasil Pengembalian dari surat berharga

Untuk lebih jelasnya penulis akan menerangkan kriteria tersebut di atas sebagai berikut :
a. Risiko Keuangan
Makin besar fluktuasi harga dan hasil bunga suatu surat berharga makin besar risiko keuangannya. Perubahan surat berharga (baik dalam besarnya maupun frekuensinya) sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Makin besar fluktuasinya makin tinggi juga risiko kerugiaan yang diderita. Misalnya Bila pihak penerbit surat berharga tidak mampu membayar bunga atau pokoknya disebut risiko gagal (risk of default)
 
b. Risiko suku bunga
Perubahan yang terjadi pada suku bunga akan membuat nilai surat berharga berfluktuasi. Hal ini berlaku terutama pada surat berharga seperti wesel atau obligasi yang mengandung tingkat bunga tetap. Pada umumnya, makin pendek waktu jatuh tempo surat hutang, makin kecil fluktuasi harganya.
Pada umumnya dalam suatu portfolio surat berharga yang dimiliki perusahaan, obligasi jangka panjang mengandung resiko yang lebih besar dari pada surat berharga jangka pendek. Akan tetapi, keuntungan yang lebih besar lebih sering diberikan oleh surat berharga jangka panjang daripada surat berharga jangka pendek yang disebabkan oleh perbedaan risiko. Sebagian besar perusahaan dalam memiliki portfolio surat berharga untuk menghindar dari risiko tinggi sebagai akibat fluktuasi bunga. Biasanya perusahaan membatasi portfolio pada surat-surat berharga jangka pendek yang diharapkan akan diambil dalam jangka panjang dan tidak akan dilikuidasi sehingga surat berharga jangka panjanglah yang dipilih.

c. Risiko daya beli
Perubahan harga-harga umum akan berpengaruh pada daya beli hutang pokok maupun hasil bunga investasi dalam surat berharga. Total pengembalian yang diperoleh dari surat berharga akan diukur dengan keuntungan atau kerugian modal ditambah hasil bunganya.

d. Risiko likuiditas (Kemudahan pencairan atau kemudahan untuk dijual kembali)
Kemungkinan turunya harga pasar surat berharga, bila surat berharga dijual merupakan risiko kemudahan pencairan atau dijual kembali (liquidity or marketability risk) yang terkandung pada surat berharga tersebut.

e. Beban Pajak
Pengenaan pajak atas portfolio surat berharga yang dimiliki perusahaan sangat dipengaruhi oleh posisi keseluruhan perusahaan terhadap pengenaan pajak.

f. Hasil pengembalian dari surat berharga
Bahwa semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi keuntungan yang diinginkan jadi dalam penyusunan portfolio surat berharga perusahaan, untung rugi (trade off) antara risiko dan hasil harus dipertimbangkan karena yang merupakan motif untuk memiliki surat berharga adalah pengamanan terhadap arus kas yang masuk dan keluar yang tak pasti dan berfluktuasi, maka kebijakan pokok yang harus dipegang adalah memilih alternatif yang kurang mengandung risiko dengan pengorbanan hasil bunga tertentu, disamping itu perusahaan akan lebih memusatkan pilihan pada aktiva yang sangat likuid dan relatif berjangka pendek dalam penyusunan portfolionya.

3. Piutang (Account Receivable)
Menurut Sarwoko dan Abdul Halim (1989 : 105) :
“Piutang adalah aktiva yang menunjukkan tagihan yang dimiliki oleh perusahaan sebagai hasil dari penjualan barang dan atau jasa di dalam kegiatan usahanya.”
Jadi piutang adalah kekayaan yang dimiliki perusahaan dari kegiatan operasional perusahaan yang berupa tagihan atas hasil penjualan barang dan jasa.
Menurut Bambang Riyanto (1997 : 85) :
“Penjualan kredit tidak segera menghasilkan penerimaan kas, tetapi menimbulkan piutang langganan, dan barulah kemudian pada hari jatuhnya terjadi aliran kas masuk (cash inflows) yang berasal dari pengumpulan piutang tersebut.
Menurut Bambang Riyanto (1997 : 85) faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya investasi dalam piutang adalah sebagai berikut :
1. Volume Penjualan Kredit
2. Syarat Pembayaran Penjualan Kredit.
3. Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit
4. Kebijaksanaan dalam Mengumpulkan Piutang
5. Kebiasaan membayar dari Para Langganan

Untuk lebih jelasnya penulis akan menerangkan faktor-faktor tersebut di atas sebagai berikut :
a. Volume Penjualan Kredit.
Makin besar proposi penjualan kredit dari keseluruhan penjualan memperbesar jumlah investasi dalam piutang. Dengan makin besarnya volume penjualan kredit setiap tahunnya berarti bahwa perusahaan itu harus menyediakan investasi yang lebih besar lagi dalam piutang yang menimbulkan resiko yang besar, tetapi bersamaan dengan itu juga akan memperbesar profitabilitasnya.

b. Syarat Pembayaran Penjualan Kredit.
Syarat pembayaran penjualan kredit dapat bersifat ketat atau lunak. Apabila perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang ketat berarti bahwa perusahaan lebih mengutamakan keselamatan daripada pertimbangan profitabilitasnya. Syarat yang ketat misalnya dalam bentuk batas waktu pembayaran yang pendek, pembebanan bunga yang berat pada pembayaran piutang yang terlambat.

c. Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit
Dalam penjualan kredit perusahaan dapat menetapkan batas maksimal atau plafond bagi kredit yang diberikan kepada para langganannya. Makin tinggi plafond yang ditetapkan bagi masing-masing langganan berarti makin besar pula dana yang diinvestasikan dalam piutang. Demikian pula ketentuan mengenai siapa yang dapat diberi kredit. Makin selektif para langganan yang dapat diberi kredit akan memperkecil investasi dalam piutang. Dengan demikian maka pembatasan kredit di sini bersifat baik kuantitatif maupun kualitatif.

d. Kebijaksanaan dalam Mengumpulkan Piutang
Perusahaan dapat menjalankan kebijaksanaan dalam pengumpulan piutang secara aktif atau pasif. Perusahaan menjalankan kebijaksanaan aktif dalam pengumpulan piutang akan mempunyai pengeluaran uang yang lebih besar untuk membiayai aktivitas pengumpulan piutang tersebut dibandingkan dengan perusahaan lain yang menjalankan kebijaksanaannya secara pasif.

e. Kebiasaan membayar dari Para Langganan
Ada sebagian langganan yang mempunyai kebiasaan untuk membayar dengan menggunakan kesempatan mendapat cash discount dan ada sebagian lain yang tidak menggunakan kesempatan tersebut. Perbedaan cara pembayaran ini tergantung kepada cara penilaian mereka terhadap mana yang lebih menguntungkan antara kedua alternatif tersebut.
Menurut Bambang Riyanto (1997 : 87) mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum pemberian kredit dilakukan yang dikenal dengan istilah 5C, yaitu :
1. Charakter
2. Capacity
3. Capital
4. Collateral
5. Condition of Economic

e.1. Character
Menunjukkan kemungkinan dari langganan untuk secara jujur berusaha memenuhi kewajibannya. Faktor ini adalah sangat penting karena setiap transaksi kredit mengandung kesanggupan untuk membayar. Hal ini menyangkut segi pribadi, watak, dan kejujuran dari pimpinan perusahaan dalam pemenuhan kewajiban-kewajiban finansialnya. Aspek moral juga merupakan faktor penting dalam evaluasi kredit. Apakah pelanggan dapat dipercaya atau tidak.

e.2. Capacity
Pendapat subyektif mengenai kemampuan dan langganan. Kemampuan tersebut diukur dengan data-data finansial diwaktu yang lalu, dan dilengkapi dengan observasi fisik dan pabrik atau toko-toko dari langganan. Hal ini menyangkut pimpinan beserta stafnya, baik kemampuan manajemen maupun keahlian dalam bidang usahanya.

e.3. Capital
Capital atau modal diukur dengan posisi finansial perusahaan secara umum yang ditunjukkan oleh analisa ratio finansial yang khususnya ditekankan pada tangible net worth dari perusahaan.

e. 4. Collateral
Collateral atau jaminan dicerminkan oleh aktiva dari langganan yang dijadikan jaminan bagi keamanan kredit yang diberikan kepada langganan tersebut. Ini menunjukkan besarnya aktiva yang akan diikatkan sebagai jaminan atas kredit yang diberikan.

e.5. Condition of Economic
Menunjukkan pengaruh langsung dari trend ekonomi pada umumnya terhadap perusahaan yang bersangkutan atau perkembangan khusus dalam suatu bidang ekonomi tertentu yang dapat mempengaruhi kemampuan langganan dalam memenuhi kewajibannya.

4. Persediaan (Inventory)
Menurut Sarwoko dan Abdul Halim (1989 : 91) :
“Persediaan adalah barang-barang yang disimpan untuk dijual lagi oleh perusahaan. Persediaan sebagai salah satu elemen penting di dalam usaha-usaha perusahaan untuk memperoleh tingkat penjualan yang diinginkan. Pengertian persediaan lebih luas dari sekedar barang dagangan. Dalam perusahaan manufaktur tidak hanya barang yang akan dijual saja, tetapi juga persediaan barang yang sedang diproses di pabrik dan yang belum diproses, yakni masih berupa bahan mentah.”
Jadi persediaan adalah bahan baku yang disimpan oleh perusahaan dalam kegiatan produksi untuk memperoleh tingkat penjualan yang diinginkan.
J. Fred Weston dan Thomas E Copeland (1997 : 305) mengemukakan ada 3 faktor utama yang menentukan besarnya investasi dalam persediaan yaitu :
Tingkat penjualan
Sifat teknis dan lamanya tingkat produksi
Daya tahan produk akhir (faktor mode)
Jadi berbagai model persediaan yang dikembangkan sebagai alat bantu dalam proses pengendalian terbukti sangat bermanfaat dalam meminimumkan biaya-biaya persediaan. Setiap produksi menekankan investasi dalam rangka menghasilkan volume penjualan tertentu akan mempunyai pengaruh positif pada tingkat hasil pengembalian atas investasi, dengan demikian akan meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan.
Mengelola modal kerja berarti mengelola aktiva lancar. Aktiva lancar biasanya dikaitkan dengan hutang lancar.
Menurut S. Munawir (1995 : 18) :
“Hutang lancar atau hutang jangka pendek adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atau pembayaran akan dilakukan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan.
Hutang lancar meliputi antara lain :
Hutang Dagang
Hutang yang timbul karena adanya pembelian barang secara kredit.
Hutang Wesel
Hutang yang disertai dengan janji tertulis (yang diatur dengan Undang-undang) untuk melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu di masa yang akan datang.
Hutang Pajak
Hutang pajak untuk perusahaan yang bersangkutan maupun Pajak Pendapatan Karyawan yang belum disetorkan ke Kas Negara.
Biaya yang Masih Harus Dibayar
Biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dilakukan pembayarannya.
Hutang Jangka Panjang yang Segera Jatuh Tempo
Sebagian (seluruh) hutang jangka panjang yang sudah menjadi hutang jangka pendek, karena harus segera dilakukan pembayarannya.
Penghasilan yang Diterima Dimuka (Deferred Revenue)
Penerimaan uang untuk penjualan barang atau jasa yang belum direalisir.

3. Klasifikasi dan Sumber-sumber Penawaran Modal Kerja
3.1 Klasifikasi Modal Kerja
Menurut Bambang Riyanto (1997 : 61), yang dikutip dari W.B. Taylor dalam bukunya yang berjudul “Financial Polities of Business Enterprise”, yang mengklasifikasikan modal kerja menurut sifat kebutuhannya yaitu sebagai berikut :

1. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital)
Yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha.
Permanent Working Capital ini dapat dibedakan dalam :
a. Modal Kerja Primer (Primary Working Capital)
Yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
b. Modal Kerja Normal (Normal Working Capital)
Yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal. Pengertian normal disini adalah dalam artian yang dinamis.

2. Modal Kerja Variabel (Variable Working Capital)
Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan antara :
a. Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital)
Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan fluktuasi musim.
b. Modal Kerja Siklis (Cyclical Working Capital)
Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konyungtur.
c. Modal Kerja Darurat (Emergency Working Capital)
Yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya, (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan ekonomi yang mendadak).

3.2 Sumber-sumber Penawaran Modal Kerja
Setiap perusahaan untuk memenuhi modal kerjanya dapat mencari sumber-sumber permodalan sesuai kebutuhan. Adapun sumber-sumber penawaran modal kerja menurut asalnya, Bambang Riyanto (1997 : 209) mengemukakan ada 2 sumber permodalan yaitu sebagai berikut :
1. Sumber Intern (Internal Sources)
Yaitu modal atau dana yang dibentuk atau dihasilkan sendiri di dalam perusahaan. Sumber tersebut terdiri dari keuntungan yang ditahan (retained net profit) dan akumulasi penyusutan (accumulated depreciations)

2. Sumber Extern (External Source)
Yaitu sumber yang berasal dari luar perusahaan. Dana yang berasal dari sumber extern adalah dana yang berasal dari para kreditur dan pemilik, peserta atau pengambil bagian di dalam perusahaan. Modal yang berasal dari para kreditur adalah merupakan utang bagi perusahaan yang bersangkutan dan modal yang berasal dari para kreditur tersebut disebut “Modal Asing”. Dana yang berasal dari pemilik, peserta atau pengambil bagian di dalam perusahaan adalah merupakan dana yang akan tetap ditanamkan dalam perusahaan yang bersangkutan dan dana ini dalam perusahaan tersebut akan menjadi “Modal Sendiri”.
(Irma Ayudya/10537069/Akuntansi/STIE Swadaya Cikarang)

Jumat, 16 Maret 2012

Langkah-Langkah Memperkecil Resiko Piutang

Piutang adalah tagihan kepada pihak lain dimasa yang akan datang karena terjadinya transaksi dimasa lalu. Walaupun pada dasarnya semua perusahaan dagang/industri menginginkan penjualan cash, tetapi karena adanya keterbatasan daya beli masyarakat, atau alasan lainnya dilakukan penjualan secara kredit. Penjualan secara kredit akan dapat meningkatkan omset penjualan, akan tetapi memiliki resiko tertundanya penerimaan kas, sehingga membutuhkan investasi yang lebih besar. Selain itu dapat juga mengakibatkan kerugian karena menunggak atau bahkan tidak tertagih. Semakin lama piutang tertunggak akan semakin besar investasi yang dibutuhkan.

Resiko kredit adalah resiko tidak terbayarnya kredit yang telah diberikan kepada para langganan. Oleh karena itu banyak perusahaan yang berusaha mengurangi resiko kredit dengan memperhatikan lima “C” sebelum memberikan persetujuan kredit.
  1. Character, kemungkinan dari para pelanggan secara jujur berusaha memenuhi kewajibannya.
  2. Capacity, pendapat subjektif mengenai kemampuan pelanggan. Ini diukur dari record tahun sebelumnya, atau dengan observasi fisik pada pabrik dan toko pelanggan.
  3. Capital, diukur oleh posisi finansial perusahaan secara umum, dimana hal ini ditunjukkan dengan analisis ratio finansiil, khususnya ditekankan pada “tangible networth” perusahaan.
  4. Collateral, dicerminan dari aktiva yang dijaminkan bagi keamanan kredit.
  5. Conditions, menunjukkan pengaruh langsung dari trend ekonomi pada umumnya terhadap perusahaan atau perkembangan khusus dalam bidang ekonomi yang mempengaruhi efek terhadap kemampuan pelanggan untuk memenuhi kewajibannya.
Langkah-langkah memperkecil resiko tidak tertagihnya piutang:
  • Penentuan besarnya resiko yang akan ditanggung perusahaan, hal ini ditentukan atas dasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Misalnya resiko ditetapkan 10% dari piutang, jika perusahaan berencana meningkatkan penjualan dengan Rp 100.000 dan akan menyebabkan tambahan biaya Rp 50.000, maka tambahan keuntungannya adalah sebesar Rp 40.000 berasal dari (100.000-50.000-(10%x100.000))
  • Kemampuan debitur memenuhi kewajibannya, hal ini dapat diukur dengan likuiditas dan rentabilitas. Selain itu perlu dipertimbangkan “soliditas”:
    • soliditas komersiil, kejujuran debitur/direkturnya dalam memenuhi kewajibannya tepat pada waktunya.
    • soliditas finansiil, memiliki modal kerja yang cukup dalam memenuhi kewajibannya tepat pada waktunya
    • soliditas moril, sifat-sifat dan moril yang baik dari debitur/direkturnya.
    • Membuat klasifikasi kredit tiap pelanggan, hal ini dapat digunakan daftar analisis umur piutang (aging schedule) sehingga diketahui sejarah kredit tiap-tiap pelanggan.
    • Mengadakan seleksi calon pelanggan, berdasar sejarah kredit dapat ditentukan pelanggan mana yang dapat ditambah plafon kredit, diturunkan, atau tetap. (EVI NURANI/1053 0130/AKUNTANSI)

Mahasiswa sebagai Aktor Perubahan

Diakui, sejak zaman penjajahan belanda, sumpah pemuda, detik-detik kemerdekaan, peristiwa 66, peristiwa 71 sampai dengan yang paling anyar, yaitu peristiwa medio 98, mahasiswa memiliki peran yang amat penting dan strategis dalam mengusung perubahan. Mahasiswa memiliki perannya yaitu sebagai pendobrak kebuntuan zaman. 

Dengan sifat keintelektual dan idealismenya mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi entitas (model) yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan. Ciri dan gaya mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atas persoalan-persoalan yang ada. Pijakan ini menjadi sangat relevan dengan nuansa kampus yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan pokok persoalan apapun.
 
Dengan kata lain, kampus merupakan laboratorium besar tempat melahirkan beragam ide, pemikiran, pengembangan wawasan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk peranan sosial individu mahasiswa tersebut dalam kehidupan kemasyarakatan sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Menjadi agen bagi perubahan sosial, budaya, paradigma, ekonomi dan politik masyarakat secara luas. Dengan demikian, kepentingan masyarakat menjadi barometer utama bagi keberhasilan suatu perubahan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa dituntut tidak hanya berhasil membawa ijazah, tetapi juga diharuskan membawa perubahan dari ilmu dan pengalamannya selama berada dalam laboratorium kampus.
 
Gerakan perlawanan mahasiswa sesungguhnya merupakan gerakan perlawanan yang dinamis. Dimensi pembangunan gerakan mahasiswa agar ilmiah diawali dengan konsep membaca, sesuatu yang berhubungan bukan hanya dengan membaca teks dan naskah tetapi lebih dari itu, menelaah, meriset, merenungkan , bereksperimen, berkontemplasi. Objeknya bisa berupa beragam persoalan yang ada dimasyarakat. Mulai dari persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya dan bahkan persoalan etika dan moralitas. Paradigma mahasiswa dikampus bertumpu pada penyelarasan ideologis dengan ketajaman analisis terhadap persoalan-persoalan yang terjadi. Kalangan mahasiswa mampu membaca, mengkaji, dan berdiskusi secara logis, kritis, sistematis, dan komperhensif, serta mampu membedah persoalan dari berbagai aspek dan sudut pandang ilmu dan pemikiran yang konstruktif. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa diharapkan mampu memberikan jawaban atas kondisi zaman yang terus berubah.
 
Karena pada hakikatnya mahasiswa memiliki peran pengabdian masyarakat yaitu sebagai agent of change, Iron stock, dan Social Control. Dalam aplikasinya, mahasiswa harus memiliki langkah strategis untuk menciptakan perubahan tersebut. Berdasarkan kondisi kampus sudah dipersiapkan dalam bidang kajian yang berbeda-beda dapat diklasifikasikan meliputi: keteknologian, sosial budaya, hukum dan plitik, serta perekonomian.
 
Mahasiswa teknik harus mengambil peran sebagai pioner dalam pengembangan teknologi bangsa. Misalnya dalam tata ruang kota, mahasiswa dapat menjadi pioner pengembangan kota tropis dana dapat mengembangkan pola arsitektur yang bersifat tradidioanal. Selain itu, kajian dalam bidang keteknologian ini memiliki peran yang luas, baik dalam teknologi bangsa, maupun untuk menganalisis permasalahan yang terdapat di negara kita, seperti ROB, kemacetan, energi listrik, dan lain-lain.
 
Mahasiswa juga harus mampu menganalisa sistem ekonomi yang ideal untuk bangsa kita. Salah satunya adalah sistem ekonomi syariah. Selanjutnya dalam bidang hukum dan politik, mahasiswa harusnya memiliki idealisme tinggi untuk menciptakan sistem hukum yang baik dalam pemerintahan di Indonesia. Semua bidang kajian itu ternyata dapat disatu padukan untuk menganalisis permasalahan bangsa dilihat dalam berbagai sudut pandang. Dan yang perlu diingat di sini adlah bahwa mahasiswa maupun pemuda harus memiliki dasar moral yang baik dan jiwa religius agar langkahnya benar-benar terarah. Hal tersebut akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa menuju bangsa yang cerdas dan didasari religiusitas.

Kamis, 15 Maret 2012

Konsep Modal Kerja Perusahaan

Pengertian Modal Kerja
Menurut Weston dan Brigham (1981, p.266) Modal Kerja adalah : “Working Capital is a firm’s investments in short – term assets – cash, short-term securities, account receivable, and inventories. Gross Working Capital is the firm’s total current assets. Net working capital is current Assets minus current liabilities. Working Capital Management, which encompases all aspects of the administration of both current assets and current Liabilities”. Yang kurang lebih memiliki arti: Modal kerja adalah investasi perusahaan dalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat – surat berharga), piutang dagang dan persediaan. Jadi modal kerja ini disebut modal kerja bruto ( gross working capital ). Sedang modal kerja bersih ( net working capital ) adalah aktiva lancar dikurangi hutang lancar. Manajemen modal kerja didefinisikan secara luas mencakup semua aspek pengelolaan baik aktiva lancar maupun huntang lancar.
Jenis Modal Kerja
Menurut WB. Taylor dan Bambang Rianto (1990:54-55) Modal Kerja digolongkan dalam beberapa jenis yaitu :
1. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital)
Yaitu modal kerja yang ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya antara modal kerja ini terdiri dari :
  1. Modal kerja primer (Primary Working Capital) jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk      menjaga kontinuitas usahanya.
  1. Modal kerja normal (Normal Working Capital) modal kerja yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan proses produksi yang normal.
2. Modal Kerja Variabel (Variable Working Capital)
Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan. Modal kerja ini dibagi:
  1. Modal kerja musiman (Seasonal Working Capital)
modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan oleh fluktuasi musim.
  1. Modal kerja siklis (Cyclical Working Capita)
modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan oleh fluktuasi konjungtur.
  1.  Modal kerja darurat (Emergency Working Capital)
modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah karena keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.
Faktor Yang Mempengaruhi Modal Kerja :
Menurut Hampton (1989:180) perusahaan membutuhkan modal kerja ditentukan oleh 4 faktor:
1)    Volume Penjualan
Perusahaan membutuhkan modal kerja untuk mendukung kegiatan operasional pada saat terjadi peningkatan penjualan.
2)    Faktor Musim dan Siklus
Fluktuasi dalam penjualan yang disebabkan oleh faktor musim dan siklus akan mempengaruhi kebutuhan akan modal kerja.
3)    Perubahan dalam Teknologi
Jika terjadi pengembangan teknologi maka akan berhubungan dengan proses produksi dan akan membawa dampak terhadap kebutuhan akan modal kerja
4)    Kebijakan Perusahaan
Kebijakan yang diterapkan oleh perusahaan juga akan membawa dampak terhadap kebutuhan modal kerja. (Septi Melia.S/1053-0040/Akuntansi)

Investasi dalam Kas bagi Perusahaan

Berdasarkan pada buku yang ditulis oleh Bambang Riyanto bahwa kas adalah salah satu unsure modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya. Makin besar jumlah kas yang ada di perusahaan berarti makin tinggi tingkat likuiditasnya. Ini berarti bahwa perusahaanmempunyai resiko yang lebih kecil untuk tidak dapat memenuhi kewajiban finansialnya. Tetapi ini tidak berarti bahwa perusahaan harus berusaha mempertahankan persediaan kas yang sangat besar, karena makin banyak kas maka makin banyak uang yang menganggur sehingga akan memperkecil profibilitasnya. Mempertahankan likuiditas berarti memelihara keseimbangan antara arus uang yang keluar (out flow). Untuk menjaga agar tidak terjadi kesulitan kas baik kelebihan atau kekurangan maka sebaiknya perusahaan menetapkan kas minimum atau safety cash. Besarnya safety cash ditentukan oleh besar kecilnya kegiatan atau kebutuhan yang diperlukan perusahaan.
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya kas minimal suatu perusahaan yaitu :
1.      Perimbangan antara aliran kas masuk mengenai kuantitas maupun timing antara cash inflow dengan cash outflow dalam suatu perusahaan berarti bahwa pengeluaran kas baik mengenai jumlahnya maupun mengenai waktunya akan dapat dipenuhi dari penerimaan kasnya sehingga perusahaan tidak perlu mempunyai persediaan besi kas yang besar
2.      Penyimpangan terhadap aliran kas yang diperkirakan
Untuk menjaga likuiditas perusahaan perlu membuat perkiraan atau estimasi mengenai aliran kas didalam perusahaan. Apabila aliran kas senyatanya selalu sesuai dengan estimasinya, maka perusahaan tersebut tidak menghadapi kesukaran likuiditas. Bagi perusahaan ini tidak perlu mempertahankan adanya persediaan besi kas yang besar.
3.      Adanya hubungan yang baik dengan bank-bank
Apabila pimpinan suatu perusahaan telah berhasil dapat dapat membina hubungan yang baik dengan bank akan mempermudah baginya untuk mendapatkan kredit dalam menghadapi kesukaran finansiilnya, baik yang disebabkan karena adanya peristiwa yang tidak diduga maupun yang dapat diduga sebelumnya. Bagi perusahaan ini tidak perlu mempunyai persediaan besi kas yang besar.
  • Budget kas
Budget kas adalah prediksi posisi kas untuk periode tertentu di masa mendatang. Penyusunan budget kas bagi sebuah perusahaan sangatlah penting demi likuiditas. Dengan budget kas akan diketahui kapan perusahaan akan dalam keadaan defisit maupun surplus karena operasinya. Dari prediksi hendak defisit maka perencanaan penutupan defisitnya dapat direncanakan dan dari prediksi surplus maka perencanaan penggunaannya juga direncanakan secara efektif dan efisien. Berpijak dari untuk apa, terasa bagaimana menyusun badget kas adalah mesti disuratkan. Budget kas disusun melalui beberapa tahapan. Tahap pertama, memprediksi penerimaan dan pengeluaran berbasis rencana operasional perusahaan. Tahap kedua, menyusun proyeksi kebutuhan dana atau kredit untuk menutup defisit kas juga disusun proyeksi pembayaran bunga. Ratmo/10530098/Akuntansi – STIE SWADAYA CIKARANG

Rabu, 14 Maret 2012

Tantangan bagi Mahasiswa

Optimisme terlihat pada kuliah perdana 12 September yang terik kemarin. Ribuan mahasiswa baru tampak begitu semangat. Langkah pertama dari rangkaian panjang mewujudkan cita-cita sudah terlaksana. Tetapi, benarkah jalan mereka akan begitu mulus? Saya memprediksi, setidaknya ada tiga tantangan yang akan menjegal mereka menciptakan “gol”.
Pertama, status sosial baru sebagai mahasiswa akan membawa konskuensi psikologis yang tidak kecil. Terlebih, status itu berkonskuensi pada tumpukan tanggung jawab individual dan sosial. Kemandirian sikap dan berpikir yang dituntut kampus dan lingkungan harus ditunjukkan ketika menghadapi persoalan akademik dan kehidupan. Hanya ada sedikit, menurut kalkulasi saya, dari ribuan mahasiswa baru yang dapat melewatinya dengan baik.
Ketika datang kali pertama, anak-anak muda ini terlihat bercahaya dalam kegairahan meraih masa depan. Namun satu atau dua tahun berikutnya, semangat akan bertumbangan. Kegairahan terkikis kebosanan akibat relasi asih-asuh di kampus yang (kadang) berubah mekanis. Mereka, kemudian, berganti mencari keasyikan; pada organisasi kemahasiswaan, kegiatan ekstrakurikuler, atau komunitas di luar kampus.
Sayangnya, tidak semua “jalan pelarian” baik dan etis dalam takaran sosiokultural masyarakat. Lingkungan baru yang apatis, pengawasan longgar dari kedua orang tua, berpotensi mengantar mereka pada kebebasan tak bertanggung jawab. Pola hidup “semau gue” adalah realitas paling mencolok mata.
Kedua, lingkungan kampus ternyata menawarkan godaan hedonistik yang tidak kalah menarik dengan kota metropolitan. Rayuan konsumtifisme akan datang siang dan malam melalui iklan. Keasyikan materalistis menawarkan kesenangan dari pagi hingga pagi kembali. Teman dan lingkungan terdekat yang memiliki gaya hidup konsumtif, diam-diam menciptakan sebuah implosi, yakni ledakan ke dalam akibat terjadinya kontraksi nilai.
Fenomena ini dapat diamati melalui penampilan mahasiswa. Handphone bermerek, celana jins ketat, rambut rebonding, dan sepeda motor “keren” telah begitu identik dengan mereka. Akibat godaan yang datang terus-menerus, konsumsi jadi luapan ekspresi. Membeli menjadi keharusan yang sulit ditolak.
Mahasiswa memang arena bagi perebutan segenap ideologi. Konsumtifisme mewartakan pesannya melalui iklan dan fundamentalisme datang dengan berbagai gugatan. Negara, tak ketinggalan, menganjurkan ketaklidan melalui ritus dan selebrasi akademik yang mengharuskan ketaatan. Bronfenbrenner (1995) menyebut setiap pribadi dipengaruhi lima lapis lingkungan dari relasi interpersonal hingga pengaruh budaya internasional. Hanya sedikit “anak tangguh” yang bertahan pada keimanan, karena jalan itu ternyata sepi, gelap, dan berkelok.
Pragmatisme Akademik
Ketiga, yang kerap luput dari amatan, adalah ancaman pragmatisme akademik. Ancaman ini lahir karena tidak semua dosen mampu membangkitkan nalar kreatif mahasiswa. Ada dosen yang terlalu sibuk mengurusi karier pribadinya sehingga mengabaikan mahasiswa yang dititipkan kepadanya. Sementara kampus, secara institusional, kerap terjebak pada kebijakan makro yang tak membumi.
Ada dosen yang terlalu sibuk mengurusi karier pribadinya sehingga mengabaikan mahasiswa yang dititipkan kepadanya. Contoh paling kentara pragmatisme akademik dapat diamati ketika yudisium. Mahasiswa harus mengukur keberhasilan belajarnya dengan nilai A sampai E. A untuk sangat berhasil dan E untuk gagal total. Simplifikasi ini mengajak mahasiswa untuk memperoleh nilai A sebanyak-banyaknya. Minimnya penjelasan filosofis kerap membuat mahasiswa lupa baik A maupun E hanya petanda. Karena hanya bersifat representatif, esensi proses belajar tetaplah perubahan tingkat laku pembelajar.
Kerancuan mahasiswa baru membedakan nilai (point) dan nilai (value) bisa berakibat fatal karena bisa membawa akibat beruntun. Pertama, terjadi mispersepsi bahwa nilai (point) adalah sama dengan nilai (value). Kedua, mispersepsi membuat mahasiswa tidak tepat menyusun prioritas secara tepat. Pertanyaan “penting mana, nilai kuliah dengan kecakapan personal?” tidak mudah untuk dijawab dengan argumen yang tepat.
Peran Kampus
Lantas, di mana peran lembaga dalam problem identitas dan pragmatisme akademik pada mahasiswa? Kalaupun ada niat baik, infrastruktur untuk menjangkau persoalan batin ini tak tersedia. Hanya dengan Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Agama yang 2 SKS di semester pertama, tentu saja tidak cukup. Justru Pusat Pengembangan Layanan Konseling dan Bursa Kerja (PPLK-BK) yang agaknya bisa memainkan peran segnifikan jika mampu menjangkau sebagian besar mahasiswa.
Para pakar pendidikan tinggi telah bersepakat pendidikan yang efektif memberikan kesempatan identitas personal berkembang. Namun, kesadaran ini tidak serta merta dapat diterjemahkan dalam mekanisme akademik. Akibatnya, persoalan personal kerap luput dari visi perguruan tinggi. Mahasiswa harus menyelesaikan sendiri atau menemukan komunitas yang tepat menghadapi gejolak personal yang dialaminya.
Karena itu, membangun komunitas kemahasiswaan yang sehat menjadi lebih menguntungkan. Teman sebaya, kata Shantrock (2009: 112), memainkan peran sosioemosional yang khusus karena mampu menyajikan informasi pembanding di luar keluarga dan sekolah. Hightower (1990) mengemukakan, hubungan teman sebaya yang harmonis berpengaruh menjaga kesehatan mental yang baik di usia paro baya.

–Surahmat, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes, Pemimpin Redaksi 

Sabtu, 03 Maret 2012

Paradigma Pendidikan Anak Harus Dirubah

NUSA DUA, KOMPAS.com - Pendidikan di Indonesia harus mampu mengubah cara pandang yang semula bekerja sebagai pegawai, menjadi wirausaha. Perubahan ini harus ditanamkan sejak anak-anak memasuki sekolah tingkat taman kanak-kanak.
Pengusaha senior Ciputra mengemukakan hal itu kepada wartawan, seusai menjadi pembicara dalam Pertemuan Kewirausahaan Regional di Nusa Dua, Bali, Sabtu (23/7). Dalam pertemuan yang diselenggarakan Global Entrepreneur Program (GEP) bermitra dengan Global Entrepreneur Program Indonesia (GEPI), hadir wirausaha dari Indonesia dan 11 investor dari Amerika Serikat yang tergabung dalam Angel Investor.
Ciputra yang tercatat sebagai salah seorang pendiri GEPI berpendapat, saat ini, seorang anak yang duduk di TK justru diajar untuk selalu patuh. Anak itu tidak diajarkan berpikir kreatif. Akibatnya, pikiran untuk selalu menurut terbawa hingga dewasa. ”Maka dari itu, cara pandang harus diubah menjadi bagaimana cara menjadi wirausaha mandiri yang kreatif,” ujarnya.
Saat ini, jumlah wirausaha di Indonesia sekitar 450.000 orang atau sekitar 0,18 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini masih jauh dari ideal, yakni 2 persen dari jumlah penduduk. Persentase ini kalah jauh dibandingkan sengan Singapura yang wirausahanya 7,2 persen dari jumlah penduduk, Amerika Serikat sekitar 12 persen, dan Malaysia 3 persen....
Selengkapnya, baca Harian Kompas, 25 Juli 2011.